OPINI – Pulau Kalimantan menyimpan banyak kekayaan tradisi adat budaya, salah satunya tradisi adat Dayak, suku bangsa besar yang mendiami pulau besar ini. Tercatat ada 405 sub-suku bangsa Dayak yang tersebar di seluruh penjuru Kalimantan. Setiap sub-suku memiliki tradisi adat dan keunikan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Dayak Ma’anyan, yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah dan sebagian di Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Tengah, masyarakat suku Dayak Ma’anyan mendiami wilayah Kabupaten Barito Timur dan sebagian tersebar di Kabupaten Barito Selatan hingga ke bagian Kabupaten Barito Utara. Dalam suku Dayak Ma’anyan sendiri, terdapat tiga wilayah kedamangan besar, yaitu: Wilayah Kedamangan Paju Epat, Wilayah Kedamangan Kampung Sapuluh, dan Wilayah Kedamangan Banua Lima.
Setiap wilayah memiliki perbedaan, baik dalam tutur/dialek, maupun sebagian prosesi ritual adat di masing-masing wilayah kedamangannya. Perbedaan ini menjadi keunikan tersendiri bagi masyarakat Dayak Ma’anyan. Kita bahkan bisa mengetahui asal daerah seseorang hanya dengan mendengar tutur bahasa atau dialeknya.
Wilayah-wilayah kedamangan ini, seiring berjalannya waktu, tersebar di berbagai penjuru Kalimantan Tengah. Dari situlah terbentuk istilah sub-Dayak Ma’anyan berdasarkan asal-muasal wilayahnya. Sub-Ma’anyan Paju Epat adalah salah satu sub-suku yang paling banyak tersebar, bahkan mendiami hampir seluruh bagian Barito Selatan dan Barito Utara.
Wilayah Kedamangan Paju Epat merupakan bagian penting dari cerita perjalanan suku Dayak Ma’anyan, terutama sejak keruntuhan Kerajaan Nasarunai, peristiwa yang kemudian disebut sebagai “Nansarunai Usak Jawa.” Jika diceritakan secara mendalam, tulisan ini akan sangat panjang, bahkan bisa menjadi buku tersendiri. Namun dalam tulisan ini, saya mencoba membahas satu ritual adat dari wilayah Kedamangan Paju Epat yang mulai hilang dari pandangan kita semua: IJAMME, sebuah ritual kematian dari sub-Ma’anyan Paju Epat, khususnya yang masih memeluk kepercayaan Kaharingan.
IJAMME merupakan ritual kematian tertinggi dalam tradisi suku Dayak Ma’anyan Paju Epat. Ritual ini bertujuan untuk menghantarkan roh almarhum menuju Tumpuk Datu Tunyung (sorga), tempat para leluhur bersemayam. Butuh waktu sembilan hari sembilan malam untuk melaksanakan ritual ini. Dan hampir satu bulan penuh untuk menjalankan seluruh rangkaian kegiatan: mulai dari persiapan ritual, acara inti, hingga pasca acara.
Dalam ritual ini, tulang-belulang almarhum akan diprosesi dengan pembakaran/kremasi, kemudian disimpan dalam peti yang disebut “Tamak.” Menurut kepercayaan Kaharingan di kalangan Ma’anyan Paju Epat, roh almarhum tidak akan sampai ke Tumpuk Datu Tunyung jika tidak dihantarkan melalui ritual IJAMME ini.
Berikut penjelasan mengenai prosesi ritual adat IJAMME ini :
Dalam ritual Ijame terdapat beberapa syarat-syarat utama yang harus dipenuhi jika ingin melaksanakan ritual ini, syarat-syarat tersebut berupa :
– 1 peti ( RARUNG PANAMAKAT ), berisi tulang dari seorang tokoh-tokoh adat ( mantir, pangulu atau damang ).
– 1 peti ( RARUNG PANAWU WUA SURAT ), berisikan tulang dari seorang Wadian ( seorang pemimpin ritual/balian ).
– 1 peti ( RARUNG BIASA ), berisi tulang dari seorang masyarakat biasa ( turunan paju epat ) yg beragama hindu kaharingan.
Tiga rarung (peti) tersebut adalah syarat wajib yang harus ada jika ingin menjalankan prosesi Ijamme. Selain itu dalam ritual ini juga memerlukan biaya yang cukup banyak.
Dalam prosesi IJAMME ada beberapa perlengkapan yang harus di buat, yaitu :
Membuat titian dari rumah kegiatan ( lewu putut ) menuju Balai yang disebut tetei , mempersiapkan tarian atau papan ukir, membuat BALAI PISAME (tempat pelaksanaan ritual), membuat BALAI HAKEI (tempat khusus untuk orang muslim), membersihkan menuju lokasi Papuian (pengkremasian),membuat NUMANG TETEI yaitu titian dari balai adat ke rumah yang almarhum, membuat tempat di tepi sungai untuk mempermudah aktifitas selama kegiatan, mempersiapkan beras ketan dari balai adat, membersihkannya di sungai sampai dengan proses parmentasi sehingga menjadi Tuak, dalam pembuatan tuak disebut dengan NGAPANRU ANING .
Dalam seluruh kegiatan di atas dilakukan oleh Mantir dan Pisame yang membantu Wadian dalam mempersiapkan seluruh bahan-bahan ritual serta mendampingi dan membantu wadian selama ritual dilaksanakan.
Dan dari jauh-jauh hari dilakukan pembentukan panitia pelaksana khususnya mantir-mantir adat dari seluruh desa di wilayah Kedamangan Paju Epat yang bertanggung jawab penuh terhadap tahapan pelaksanaan, oleh karena itu para mantir tersebut harus sudah memenuhi syarat khusus sesuai dengan tata aturan hukum adat yang berlaku karena tidak bisa sembarang orang melaksanakan ritual tersebut. Para mantir adat tersebut harus sudah atau pernah ditahbiskan serta mengisi hukum adat yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ritual ini.
PRA ACARA RITUAL IJAME
Dalam ritual pra Ijame di sebut dengan BAUKA KUMANG , dalam bauka kumang tersebut ada lima kegiatan di dalamnya, yaitu :
- IRUMPAK LAMI merupakan hari untuk mencari kayu WUHUNGAN yang akan dibuat menjadi Papan Lami dengan jumlah 16 keping, ukuran lebar 1×10 cm dan panjang 2 meter. Tamiki Kupang jumlah 16 pita ukuran lebar 1×10 cm dengan panjang 2,5 meter. Papan Tarip dengan jumlah 16 keping ukuran lebar 1×10 cm dan panjang 1 meter. Pembuatan bentuk Burung Garuda dan Naga dari akar LALUTUNG yang nantinya akan dipasang di ujung peti tempat meletakkan tulang-tulang yang akan dikremasi. Setelah semuanya sudah lengkap maka diletakkan di tempat khusus, karna papan-papan itu nantinya digunakan untuk membuat sebuah wadah khusus tempat meletakkan Rarung (peti) selama prosesi ritual nantinya di dalam balai adat.
- NGUTUH WULU merupakan hari khusus untuk mencari BAMBU sebanyak 28 bilah untuk pembuatan bagian dari tempat ritual pengkremasian/pembakaran tulang yang nanti akan mengikatkan di sekeliling bagian dasarnya. 28 pisau bambu juga dicari lagi untuk membuat Manguntur (gelanggang tempat sabung ayam), semuanya dengan ukuran panjang 5-6 meter. Setelah semuanya lengkap lalu di bawa ke balai adat.
- IRUMPAK BIHARA pada hari itu khusus mencari kayu KAHUI untuk dibuat menjadi tempat ritual pengkremasian secara utuh. Kayu tersebut dipotong menjadi papan bihara sebanyak 28 buah yang dibentuk menjadi atap tempat pengkremasian. Kayu balabau dan dadalungan dengan ukuran 2 meter masing-masing sebanyak 4 buah yang nanti akan dijadikan rangkanya. Lalu Ulu Kurung 1 pisau dengan ukuran lebar 10 cm sepanjang 1 meter. Seperti yang lainnya, setelah lengkap langsung dibawa ke balai adat.
- IRUMPAK LIMAR , kegiatan mencari kayu RARUNG jenis kayu Jelutung yang nantinya dipotong untuk dibuat menjadi Rarung (peti) tempat meletakkan tulang yang akan dikremasi, sebagian lagi dibuat menjadi papan limar , papan papansa , papan kalinen , papan Kakisi hante , papan kakisi halus yang kesemuanya itu bagian dari tempat meletakkan peti tadi. Apabila bahan-bahan tadi dirangkai dan dibentuk menjadi tempat peletakan rarung disebut dengan IDARAN.
- MAKAN UMPUI DAN IBUBUHAN , merupakan suatu ritual tolak bala sebelum ritual Ijame dilaksanakan. MAKAN UMPUI adalah ritual tolak bala terhadap roh-roh halus yang mungkin akan mengganggu selama proses pelaksanaan ritual Ijame nantinya, sedangkan IBUBUHAN adalah ritual tolak bala terhadap roh sejenis penyakit-penyakit yang juga mungkin mewabah ke masyarakat umumnya selama kegiatan. Kegiatan ini khusus di lakukan oleh Wadian.
UPACARA RITUAL IJAMME
Berikut daftar kegiatan dalam ritual ijame yang dilaksanakan dalam waktu 9 hari :
- TARAWEN , pada hari pertama yaitu pembuatan Rarung (peti), kemudian dilakukan ibungkat atau penggalian tulang atau jasad dari pemakaman, tulang dibersihkan dengan minyak tanah dan dikumpulkan di dalam rarung kemudian digendong menuju balai.
- NI’IT UWEI , pada hari kedua yaitu kegiatan ini utamanya adalah Ni’it Uwei atau Meraut Rotan untuk digunakan dalam sabung ayam
- NARAJAK , pada hari ketiga yaitu dilakukan di situs papuian yaitu menyusun bambu sehingga membentuk pramid (tarajakan)
- MUARARE , pada hari ke empat yaitu mengayam bambu, yang disematkan di tarajakan
- NAHU , pada hari keenam yaitu adalah proses mengasapi kayu agar menjadi hitam yang nantinya akan diselipkan juga ditarajakan
- NYURAT , pada hari ke enam yaitu proses membuat gambar untuk atap papuyan (tempat pembakaran)
- NANSARAN , pada hari ketujuh yaitu membuat lalaya (teras) untuk papuyan
- MUNU , pada hari kedelapan yaitu Kerbau melingkar di balontang dan akan di tombak dalam proses pengorbanan.
- MAPUI, pada hari kesembilan yaitu proses terakhir ijame adalah membakar tulang, tulang yang dibakar yang sudah membara tersebut dikumpulkan di dalam gong dan ditaruh didepan balai yang akan ditangisi oleh pihak keluarga dan akhirnya dicuci dengan Tamanung (air kelapa) kemudian diantar ke Tamak.
Setelah acara ijame selesai, maka acara selanjutnya adalah NGANREI BALAI yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam.
Namun ritual ini tidak dilaksanakan setiap tahun karena banyaknya syarat dan perlengkapan yang harus dipenuhi. Selain itu, jumlah penganut kepercayaan Kaharingan di wilayah Paju Epat pun semakin sedikit, yang menyebabkan prosesi ini menjadi sangat jarang digelar. Terakhir, ritual IJAMME dilaksanakan pada tahun 2017. Setelah itu, baru kembali dilakukan pada tahun 2025 ini.
Satu hal yang menjadi kekhawatiran besar: hanya ada satu orang yang mampu menjalankan ritual sakral ini. Beliau adalah Itak Nyupur, seorang Wadian Pangunraun Jatuh, wadian tertinggi dalam wilayah Kedamangan Paju Epat. Hanya beliaulah yang bisa memimpin ritual IJAMME. Namun usia beliau sudah lanjut, ibaratkan matahari beliau sudah hampir di ujung senja. Tahun 2025 ini, beliau genap berusia 97 tahun. Ibarat matahari, beliau kini sudah berada di ujung senja. Walaupun memiliki 6 orang anak, 27 cucu, 24 cicit, dan 9 alep, tak satu pun dari mereka yang bisa meneruskan tugasnya sebagai wadian.
Mungkin sekarang beliau masih mampu melaksanakan ritual IJAMME. Tapi bagaimana setelah ini? Apakah kita masih akan sempat menyaksikannya lagi? Bagaimana nasib mereka, sub-Ma’anyan Paju Epat yang masih memeluk kepercayaan Kaharingan? Ini bukan lagi pertanyaan kecil, melainkan gema yang menghantui seluruh masyarakat Dayak Ma’anyan.
Kini, pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar bayang samar yang bergema dalam ruang batin masyarakat Ma’anyan. Pertanyaan ini seakan menjadi alarm yang menggema di tengah sunyi, memanggil semua pihak untuk membuka mata selebar-lebarnya. IJAMME bukan hanya milik orang Paju Epat, ini adalah warisan kultural yang seharusnya menjadi kebanggaan dan tanggung jawab kita yang mengaku sebagai ulun Ma’anyan, Umpu Kakah, anak bangsa, pewaris kebudayaan nusantara.
Ini bukan hanya kehilangan personal, tapi potensi kehilangan sebuah institusi budaya yang tidak bisa dicetak ulang. Tidak ada sekolah untuk menjadi wadian seperti beliau. Tidak ada silabus yang bisa menggantikan pengalaman spiritual, disiplin tradisi, dan pengetahuan turun-temurun yang selama ini hanya diwariskan secara lisan dan melalui praktek nyata.
IJAMME bukan sekadar upacara kematian, ini adalah pernyataan hidup. Dalam tradisi Dayak Ma’anyan, hidup dan mati bukan dua kutub yang bertolak belakang, melainkan satu tarikan napas panjang. Kematian hanyalah lanjutan dari kehidupan, sebuah perjalanan pulang ke pelukan alam, ke rahim semesta, ke rumah para leluhur yang menunggu di Tumpuk Datu Tunyung.
Orang Ma’anyan tidak pernah memisahkan manusia dari alam. Api, air, Tanah, Kayu, rotan, akar bahkan asap pembakaran semua unsur alam hadir dan ikut serta dalam ritual IJAMME. Mereka adalah bagian terpenting dari proses sakral yang menyatukan manusia dengan asalnya. Di sana, alam bukan objek, tapi mitra spiritual, segala sesuatu yang hidup, tumbuh, dan membusuk adalah bagian dari satu siklus suci: lahir, hidup, mati, dan kembali.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang tak pernah hilang: hubungan sosial yang membentuk nadi masyarakat Dayak Ma’anyan. Dalam ritual IJAMME, kita melihat bagaimana seluruh komunitas bergerak bersama untuk membantu keluarga dalam menjalankan ritual ini. Mantir, wadian, tetua, dan masyarakat seluruh masyarakat tidak hanya dari wilayah kedamangan Paju Epat, namun seluruh suku besar Dayak Ma’anyan ikut hadir, bukan hanya pemeluk kepercayaan Kaharingan saja, namun seluruh seluruh agama pun hadir, bahkan di dalam acara ritual ini di buat tempat khusus untuk beragama Muslim. bukan tanpa asalan, ada sejarah dan cerita panjang tentang jal itu, semuanya terlihat dan tidak ada yang berjalan sendiri. Bahkan tulang yang sudah lama bersemayam pun diantar dalam kebersamaan, dengan tangisan, doa, dan gong yang bergema dari hati kolektif.
IJAMME adalah cerminan kehidupan orang Ma’anyan, dunia yang menjunjung hubungan, menghormati siklus, dan menyatukan hidup dengan kematian.
Dan secara kebetulan, momen tahun 2025 ini bukan momen biasa. Dari tanggal 15 Juli sampai 4 Agustus 2025, Desa Murutuwu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, kembali lagi menjadi saksi hidup dari satu upacara yang langka yang jarang terlihat oleh mata kita generasi muda. Inilah saatnya kita datang sebagai pewaris, anak-anak budaya yang ingin belajar, mencatat, dan mengabadikan.
Seluruh elemen, baik pemerintah, media, akademisi, sejarawan, pencinta budaya, anak-anak muda dan seluruh lapisan masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk mengabadikan momen ini, kita punya tugas penting, mencatat sejarah untuk di wariskan ke generasi setelah kita.
Mari datang, mari duduk bersila bersama orang-orang tua di Murutuwu, Paju Epat. Dengarkan bunyi gong, hirup aroma kemenyan, dan tatap api kremasi yang membawa tulang-belulang menuju keabadian. Kita tidak sedang meliput sebuah acara, kita bertugas untuk menyelamatkan warisan budaya. //
Ikuti Kaltengbicara.com di Google Newsuntuk dapatkan informasi lainnya.















