PALANGKA RAYA – Peringatan Hari Kartini kembali hadir dengan berbagai simbol budaya seperti kebaya dan sanggul. Namun, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya (BEM FISIP UPR) menegaskan bahwa makna perjuangan Raden Ajeng Kartini bukan sekedar soal busana semata.
Kepala Departemen Agama dan Penguatan Kapasitas Perempuan, Gresiana Herauwani, menekankan bahwa Kartini adalah simbol keberanian berpikir, melawan ketidakadilan, dan memperjuangkan hak perempuan atas pendidikan, kebebasan, serta kesetaraan.
“Jika Hari Kartini hanya dimaknai sebatas perayaan, maka kita kehilangan esensi perjuangannya. Kartini adalah simbol gerakan perempuan, bukan hanya sekedar peringatan,” tegas Gresiana.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stereotip, tekanan sosial, beban ganda, hingga ketimpangan dalam ruang publik. Dalam banyak kasus, perempuan masih harus bekerja lebih keras untuk diakui, serta menghadapi risiko diskriminasi dan kekerasan.
Kami berpandangan bahwa Hari Kartini harus menjadi momentum refleksi dan konsolidasi, bukan sekadar agenda tahunan.
Perjuangan perempuan hari ini menuntut perubahan nyata yang bersifat sistemik, baik dalam kebijakan, institusi, maupun cara pandang masyarakat.
“Pertanyaan pentingnya bukan lagi apa yang kita kenakan, tetapi apa yang sudah kita perjuangkan,” lanjutnya.
BEM FISIP UPR mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melanjutkan semangat Kartini melalui tindakan nyata, menciptakan ruang aman, pencegahan kekerasan seksual, serta berani melawan ketidakadilan.
“Selama masih ada ketimpangan dan pembungkaman terhadap perempuan, maka perjuangan Kartini belum selesai”, Tutupnya. //
Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.














