IMG-20260104-WA0005

Open House Natal yang Merajut Persahabatan Lintas Kalangan

JAKARTA – Seorang politisi sejati tak hanya membuka ruang dialog di panggung publik, tetapi juga membuka pintu rumahnya bagi siapa saja. Itulah yang tampak pada open house perayaan Natal yang digelar Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait di kediamannya, Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Desember 2025.

Beragam tamu undangan hadir, mulai dari warga biasa hingga pejabat tinggi negara, lintas latar, lintas iman.

Rumah itu seolah menjadi ruang bersama, tempat sekat sosial mencair oleh sapaan hangat dan perjumpaan yang setara.

Keberagaman undangan mencerminkan keluasan hati dengan kuatnya jejaring seorang politisi yang memahami makna hospitality sebagai nilai publik.

Maruarar menunjukkan bahwa politik tidak selalu tentang kekuasaan dan formalitas, melainkan tentang kesediaan hadir, menerima, dan melebur dengan masyarakat.

Dalam suasana perayaan Natal di rumah kediamannya yang penuh damai, ia meninggalkan impresi sederhana namun kuat: kepemimpinan yang membangun kepercayaan berangkat dari hati yang terbuka dan niat yang tulus untuk membangun bangsa.

Open house malam Natal, Kamis, 25 Desember 2025, rumah di Jl Diponegoro itu kembali menjadi titik temu warga dari berbagai kalangan.

Bukan sekadar alamat seorang pejabat negara, melainkan ruang sosial yang hidup, tempat orang datang, bertemu, berbincang, dan pulang dengan perasaan diterima.

Di sanalah, Bung Ara, nama sapaan Maruarar Sirait, menyambut tamu satu per satu dengan kehangatan yang tulus, dari awal hingga akhir.

Daftar tamu malam itu panjang dan berlapis.

Ada masyarakat bawah, aktivis sosial, rohaniawan, anggota pengusaha, hingga petinggi negara: para menteri, pimpinan lembaga, pemimpin partai, anggota dewan, dan Gubernur DKI, kepala daerah dari Jawa Barat, gubernur, sekretaris daerah, serta para bupati dari Subang, Majalengka, dan Sumedang.

Ragam latar itu tidak menciptakan jarak, melainkan menambah warna.

Dari kalangan eksekutif, antara lain, tampak hadir Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (Purn.) Muhammad Tito Karnavian, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Letnan Jenderal TNI (Purn) Muhammad Herindra, Gubernur DKI Pramono Anung, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman, serta para bupati kepala daerah Majalengka, Subang, dan Sumedang.

Dari kalangan legislatif hadir Muhammad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI, komisi yang membidangi keuangan, termasuk fiskal, moneter, dan lembaga keuangan.

Ikut hadir Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Jacklevyn Fritz Manuputty, wakil dari delapan aras gereja-gereja di Indonesia.

Ada Ketua Harian Panitia Natal Nasional 2025 Jason Balompapueng, para pengurus panitia Natal, pengusaha, profesional, para ibu dari sejumlah organisasi, dan para aktivis.

Menteri Agama sempat duduk bersama para pimpinan aras gereja-gereja di Indonesia.

Tentu saja acara dimeriahkan musik lembut dengan menampilkan sejumlah penyanyi seperti Edo Kondologit.

Yang menarik, tak ada kesan formal berlebihan. Bung Ara mampir di setiap meja dan mengobrol ringan, menanyakan kabar keluarga, menyelipkan humor, lalu mendengarkan.

Ia piawai membuat tamu merasa penting, apa pun posisi sosialnya. Inilah seni pergaulan yang jarang: hadir penuh, bukan sekadar lewat.

Dari sudut pandang sosiologi, peristiwa ini menunjukkan modal sosial yang terawat. Jejaring tidak dibangun instan.

Jejaring dirajut dari perjumpaan yang berulang dan bermakna.

Bung Ara memelihara relasi lintas kelas dan lintas iman, sehingga kehadirannya selalu dinanti, bukan karena jabatan, melainkan karena keramahtamahan dan penghargaan yang ia berikan.

Lalu lintas di sekitar rumah diatur rapi oleh Banser Nahdlatul Ulama.

Detail ini kecil, tetapi simboliknya besar. Perayaan Natal berlangsung aman dan tertib berkat kolaborasi lintas komunitas.

Ara memahami bahwa hospitality sejati juga berarti memastikan kenyamanan semua pihak.

Banyak tamu non-Kristen hadir malam itu. Mereka tidak sekadar datang berjabat tangan mengucapkan selamat Natal.

Mereka tinggal, berbincang, dan bergembira bersama, menikmati makan malam buatan UMKM.

Bung Ara tidak menjadikan iman sebagai sekat, tetapi jembatan.

Ia merayakan Natal sebagai perjumpaan dengan sesama, sebuah etos yang membuat siapa pun merasa diundang.

Kesan positif lahir dari konsistensi perilaku.

Bung Ara dikenal sama hangatnya di ruang privat maupun publik.

Senyum yang sama, bahasa tubuh yang terbuka, dan kesediaan mendengar membuat tamu pulang dengan impresi baik.

Kesan itu menempel, lalu menyebar dari mulut ke mulut.

Sebagai warga Indonesia berdarah Batak dan penganut Kristen yang taat, Ara tidak menanggalkan identitas. Ia justru memakainya sebagai fondasi etika: jujur, setia, dan menghormati relasi.

Nilai-nilai yang ia terima dari ayahnya, Sabam Sirait, menjadi kompas dalam pergaulan, bahwa integritas adalah mata uang paling bernilai.

“Darah saya ini darah nasionalis. Saya Kristen, tetapi saya juga orang Indonesia yang menghargai toleransi, dan warga dunia yang mencintai sesama,” kata Bung Ara pada suatu kesempatan.

Di sinilah politik menemukan wajahnya yang manusiawi.

Jaringan yang luas bukan hasil kalkulasi dingin, melainkan buah dari kepercayaan, dan kepercayaan itu dibangun dengan integritas.

Bung Ara tidak memburu perhatian. Ia justru memberi perhatian. Dan perhatian, dalam politik relasional, selalu berbalas.

Sebagai Ketua Panitia Natal Nasional, Ara terbiasa mengelola perbedaan.

Ia tahu kapan memimpin, kapan memberi ruang. Kepiawaian itu tampak alami, seolah-olah ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Padahal, di baliknya ada disiplin batin: menghormati waktu orang lain, menjaga tutur kata, dan menepati janji.

Para tamu sering mencatat satu hal: Bung Ara mengingat detail.

Nama, cerita lama, bahkan rencana kecil.

Ingatan personal ini menciptakan kedekatan yang autentik.

Bagi banyak orang, itulah alasan mereka kembali—bukan protokol, melainkan relasi.

Dalam etika Kristen, hospitality adalah panggilan.

Menerima tamu berarti menerima martabatnya.

Bung Ara menerjemahkan ajaran itu ke praktik sehari-hari.

Meja dipanjangkan, kursi ditambah, dan percakapan dibiarkan mengalir. Tidak ada yang terburu-buru.

Sebagai menteri, Bung Ara juga menjaga garis profesional. Ia dikenal tegak lurus kepada Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, sebagai pemberi mandat.

Loyalitas ini bukan retorika, melainkan kerja nyata yang kemudian berbuah kepercayaan.

Kepercayaan itu tampak simbolik namun kuat: karangan bunga dari Presiden pada ulang tahun Ara ke-56, 23 Desember 2025, dan panggilan video Presiden pada malam Natal.

Dalam percakapan itu, Presiden menyampaikan selamat Natal sekaligus pujian atas dedikasi Ara membantu tugas pemerintahan.

Di halaman rumahnya masih terlihat karangan bunga, umumnya bunga anggrek, yang dikirim oleh relasinya pada HUT-nya yang ke-56, tanggal 23 Desember 2025.

Bagi para tamu, momen-momen ini mempertegas satu kesan: Bung Ara dipercaya ke atas, diterima ke samping, dan dirasakan ke bawah.

Tiga lapis relasi yang jarang bertemu pada satu figur, namun pada Bung Ara tampak selaras.

Investortrust mencatat, kepiawaian membangun pergaulan seperti ini adalah aset kepemimpinan.

Di tengah polarisasi, figur yang mampu menyatukan tanpa mengaburkan prinsip menjadi penanda harapan. Bung Ara melakukannya dengan gaya tenang, tanpa sorotan berlebih.

“Saya tahu, ada yang suka, dan banyak yang tidak suka dengan langkah dan gaya saya. Sebagai pejabat publik, saya harus menerima karena itulah demokrasi. Saya tidak perlu membantah dengan kontra-narasi, tetapi cukup dengan tindakan nyata,” ujarnya.

Malam kian larut, tamu berganti pamit. Namun impresi tetap tinggal. Banyak yang pulang dengan perasaan ringan, seolah baru saja berjumpa sahabat lama.

Ia mengantar setiap tamu hingga mobil. Itulah tanda hospitality bekerja: meninggalkan jejak baik yang tak berisik.

Di rumah Bung Ara yang asri di Jl Diponegoro, Natal menjelma menjadi peristiwa perjumpaan yang hangat.

Ia menerima setiap tamu dengan senyum yang sama, sapaan yang personal, dan perhatian yang utuh, seolah tak ada jarak antara tuan rumah dan undangan.

Kehadiran para tamu di rumah Bung Ara adalah pengalaman yang membuat siapa pun merasa diterima dan dihargai, apa pun latar belakangnya.

Open house malam Natal itu menegaskan satu hal: Bung Ara semakin diingat bukan karena kemegahan acara, melainkan karena kehangatan yang tulus dan menetap di hati setiap tamu.

pesona haka kalibata