“Tangis di Tepi Sungai: Perjuangan Sari Melawan Maut dari Rahang Buaya Ganas”

FOTO - Korban serangan buaya, Sari, yang selamat dari serangan buaya di Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit.

SORE itu, Senin (13/1) di Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, terasa tenang. Seorang ibu muda, Sari, sedang mencuci pakaian di Handil Pasir, sebuah anak sungai di desa tersebut. Saat itu di dekatnya ada sang suami, Burhan, juga beraktivitas di tempat itu.

Namun sekitar pukul 17.00 WIB, keheningan pecah saat dari dalam sungai yang keruh, seekor buaya besar dengan panjang lebih dari 4 meter muncul seperti bayangan maut, menyerang Sari tanpa ampun.

Dalam sekejap, tubuh Sari diseret ke dalam air. Jeritannya mengoyak keheningan senja. Suami korban bersama Kipli, seorang teman tanpa pikir panjang melompat ke dalam sungai yang dingin. Dalam arus yang bergejolak, mereka berdua berjuang melawan kekuatan buas seekor predator alam liar.

Dia berjuang melawan cengkeraman rahang kuat buaya, hingga akhirnya berhasil mencolok mata sang predator dengan tangan kosong. Tangannya gemetar, tetapi tekadnya kuat. Gigitan buaya terlepas, dan Sari akhirnya bisa diangkat ke permukaan. Luka-luka di tubuhnya menceritakan betapa ia berada di ambang maut.

“Istri saya diseret ke dalam air dan ditenggelamkan. Melihat kejadian itu saya dan Kipli menceburkan diri ke sungai untuk menolong istri saya. Terjadi perlawanan dan akhirnya Sari terlepas dari gigitan buaya karena saya berhasil mencolok mata buaya, itu” kata Burhan yang disampaikan kepada Komandan BKSDA Resort Sampit, H. Muriahsyah.

Namun malapetaka belum selesai. Saat Burhan dan Kipli hendak membawa Sari ke darat, buaya itu kembali menyerang, kali ini menggigit paha Kipli.

Saat itu, Kipli yang tak berdaya diseret ke dalam air. Air sungai menjadi saksi pertarungan hidup dan mati manusia melawan alam.

Di tengah kepanikan, adik Sari tiba-tiba datang. Dengan keberanian luar biasa, ia menangkap tangan Kipli yang sedang ditarik ke dalam oleh buaya. Tarik-menarik yang mencekam terjadi, antara kekuatan manusia melawan kekejaman alam liar.

Dengan sisa-sisa tenaga, Kipli akhirnya berhasil diselamatkan. Namun pahanya yang robek parah menjadi bukti nyata bagaimana maut nyaris menang.

Sari dan Kipli, dalam kondisi lemah dan berdarah-darah, digendong oleh Burhan dan beberapa warga menuju jalan raya. Kaki mereka bergetar, tetapi langkah itu adalah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan nyawa. Tangis pecah di sepanjang perjalanan. Beberapa warga hanya bisa memandangi dengan tatapan penuh duka, tak mampu membantu lebih banyak.

Saat akhirnya sebuah mobil datang, Sari dan Kipli segera dilarikan ke Rumah Sakit Samuda. Mereka tiba dengan kondisi kritis, tetapi hidup mereka masih terselamatkan. Namun trauma yang mereka alami akan membekas selamanya, baik di tubuh maupun di jiwa.

Lokasi sungai yang menjadi tempat tragedi ini merupakan wilayah yang sudah diubah menjadi kebun kelapa sawit pribadi. Sungai yang dulu menjadi tempat masyarakat menggantungkan hidup, kini berubah menjadi wilayah yang penuh bahaya. Aktivitas penggalian dan perusakan habitat membuat buaya-buaya besar kehilangan tempat tinggal mereka, hingga akhirnya mereka menyerang manusia.

Kejadian ini adalah pengingat pilu tentang perjuangan masyarakat kecil yang setiap hari harus berhadapan dengan ancaman alam demi mencari sesuap nasi. Sari, Burhan, Kipli, dan keluarga mereka kini harus memulai babak baru, mencoba bangkit dari tragedi yang mengguncang ini.

Tangis di tepi sungai itu mungkin telah reda, tetapi luka yang ditinggalkan tidak akan pernah hilang. Di balik keberanian dan pengorbanan mereka, ada pesan mendalam: kehidupan manusia tidak seharusnya selalu menjadi taruhan, bahkan untuk sekadar bertahan hidup.// (007)

pesona haka kalibata