IMG-20260104-WA0005

“Harapan yang Dirampas: Luka di Balik Lomba Drumband Smansa”

Mental Anak dan Nama Baik Sekolah Tercoreng

FOTO - Panitia Lomba SMANSA Marching Day saat menyerahkan Trophy kepada perwakilan tim Drumband siswa RA Melati

SAMPIT – Lomba Marching Band Smansa yang digelar Minggu, 11 Mei 2025, di Indoor Stadion 29 Nopember Sampit, berubah dari panggung keceriaan menjadi arena kekecewaan. Ketika anak-anak tampil penuh semangat dan harapan, justru yang mereka terima adalah keputusan kontroversial dan dugaan ketidakadilan dari pihak panitia dan dewan juri.

Mariyamah Kepala RA Melati tak dapat menyembunyikan rasa kecewa dan luka atas perubahan hasil lomba yang diumumkan secara sepihak.

“Kami tampil dengan maksimal. Tapi ketika hasil diumumkan tiba-tiba berubah tanpa alasan yang jelas, lalu muncul komentar menyakitkan bahwa sekolah kampung seperti kami tak pantas menang—itu sangat merusak. Panitia bukan hanya mengacaukan hasil, mereka mencoreng nama baik sekolah kami,” tegas Mariyamah dengan nada getir.

Sebelumnya, panitia telah mengumumkan hasil sebagai berikut:
– Juara 1: TK Purwanida
– Juara 2: TK Nurul Iman
– Juara 3: RA Melati

Namun beberapa jam kemudian, hasil tersebut berubah:
– Juara 1: TK Bhayangkari
– Juara 2: TK Purwanida
– Juara 3: TK Nurul Iman

FOTO – Foto bersama usai penyerahan trophy dalam ajang lomba SMASA Marching Day.

RA Melati yang sempat menerima trofi, mendadak dihapus dari daftar pemenang. Kepala Sekolah RA Melati, Mariyamah, menyebut tindakan panitia sebagai tamparan terhadap semangat anak-anak.

“Kami menerima trofi, anak-anak bersorak, orang tua bangga. Lalu tiba-tiba nama kami tak ada? Ini mencederai batin mereka. Panitia harus menjelaskan, bukan membungkam,” ujar Mariyamah dengan nada kecewa.

Sejumlah orang tua juga menyampaikan protes keras. Mereka menyatakan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya piala, melainkan semangat, kepercayaan, dan mental anak-anak yang telah berjuang.

“Kalau begini caranya, siapa lagi yang percaya kepada kejujuran panitia? Kami menuntut tanggung jawab, kami ingin nama baik sekolah kami dipulihkan,” ujar salah satu wali murid.

Anak-anak merekai telah berlatih berminggu-minggu bahkan menangis karena bangga membawa pulang piala “Bagaimana kami harus menjelaskan bahwa piala itu salah berikan ini bukan soal hadiah ini menyangkut harga diri dan kepercayaan anak-anak terhadap dunia orang dewasa,” tandasnya..

Banyak pihak menilai bahwa lomba ini telah gagal memberi contoh sportivitas, justru membuka luka yang tak pantas ditanggung oleh anak-anak usia dini. Ketika kejujuran dikalahkan, dan kepentingan tertentu mengambil alih nilai pendidikan, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan—tapi juga masa depan semangat anak-anak sebagai generasi penerus.

Kepercayaan publik ini dipertaruhkan sorotan tajam tertuju pada panitia dan dewan juri yang dinilai tidak transparan serta gagal menjaga Marwah kompetisi. Dalam suasana pendidikan yang ideal anak-anak patut diajarkan tentang kerja keras ketulusan dan kejujuran bukan sebaliknya. // (KBC/007)

pesona haka kalibata