OPINI – Hari Kartini merupakan momentum penting untuk merefleksikan sejauh mana nilai-nilai yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini telah terwujud dalam kehidupan saat ini. Peringatan ini tidak hanya dimaknai sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan masih perlu terus dilanjutkan.
Persoalan perempuan hari ini tidak lagi sebatas pada akses pendidikan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks. Kekerasan berbasis gender masih terjadi, praktik menyalahkan korban masih dijumpai, dan akses keadilan bagi korban belum selalu mudah. Dalam banyak situasi, korban dihadapkan pada proses yang tidak sederhana, sementara sistem perlindungan masih memerlukan penguatan agar mampu memberikan rasa aman dan keadilan secara menyeluruh.
Dalam konteks ini, memperingati Hari Kartini seharusnya menjadi ruang refleksi sekaligus evaluasi bersama. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah sejauh mana perlindungan dan pemenuhan hak perempuan telah berjalan secara efektif. Regulasi telah tersedia sebagai landasan, namun pelaksanaannya masih memerlukan konsistensi dan penguatan di berbagai aspek, termasuk dalam penegakan hukum dan mekanisme perlindungan yang lebih responsif.
Dalam perspektif kekristenan, setiap manusia memiliki martabat yang setara karena diciptakan menurut gambar Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alkitab, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya” (Kejadian 1:27). Selain itu, nilai kesetaraan juga ditegaskan dalam Galatia 3:28 bahwa “tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu.” Nilai-nilai ini menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi diskriminasi maupun kekerasan, dan menjadi dasar moral untuk memperjuangkan keadilan serta perlindungan terhadap perempuan.
Perjuangan Kartini pada dasarnya adalah perjuangan melawan ketidakadilan. Oleh karena itu, semangat tersebut tidak hanya dimaknai sebagai upaya memperjuangkan perempuan, tetapi juga sebagai dorongan untuk membangun tatanan sosial yang lebih adil dan setara. Hal ini memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam memperbaiki cara pandang, budaya, dan praktik sosial yang masih menyisakan ketimpangan.
Pada akhirnya, Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju keadilan dan kesetaraan masih terus berjalan. Peringatan ini penting untuk menjaga komitmen bersama agar nilai-nilai tersebut tetap hidup, tidak hanya dalam bentuk simbol, tetapi juga dalam tindakan nyata yang berkelanjutan. //
Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.














