Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Kayu Sampit: Petualangan Edukatif Siswa SDN 4 Ketapang

FOTO - siswa-Siswi SDN 4 Ketapang saat berada di museum kayu sampit.

SAMPIT – Ada yang berbeda dari wajah-wajah ceria siswa SDN 4 Ketapang pagi ini. Nafisa, Hakil Rizki, Rere, Hana, dan Dafa tampak penuh semangat saat menginjakkan kaki di Museum Kayu Sampit, sebuah tempat yang menyimpan kekayaan sejarah dan warisan budaya Kalimantan Tengah.

FOTO bersama alat permainan tradisional balogo yang hampir punah

Didampingi oleh guru pembimbing, Ibu Mutia Lestari, S.Pd., dan Ibu Nina, S.Pd., mereka diajak menelusuri setiap sudut museum dengan penuh rasa ingin tahu. Petugas museum yang ramah dan informatif menjelaskan dengan detail setiap koleksi yang dipamerkan—mulai dari berbagai jenis kayu khas Kalimantan, alat tradisional, hingga permainan klasik yang hampir terlupakan, Selasa 18 Maret 2025.

Museum Kayu Sampit, yang terletak di persimpangan Jalan S. Parman dan Jalan Yos Sudarso, didirikan pada tahun 2003 dan diresmikan pada 6 Oktober 2004 oleh Bupati Kotawaringin Timur saat itu, Wahyudi K. Anwar. Museum ini berdiri sebagai pengingat masa kejayaan industri perkayuan di Sampit, yang pernah menjadi salah satu penghasil kayu utama di Indonesia.

FOTO bersama petugas museum kayu Sampit

Koleksi museum ini mencakup berbagai jenis kayu berkualitas tinggi yang pernah menjadi andalan daerah tersebut, seperti ramin, dowel, meranti kuning, alau, kemfa, ulin, dan benuas. Kayu-kayu ini dipamerkan dalam bentuk gelondongan serta sampel potongan yang siap ekspor.

Selain itu, museum ini juga menampilkan alat-alat pengolahan kayu bersejarah, termasuk mesin bansaw besar buatan Taiwan tahun 1970 yang pernah digunakan oleh PT Inhutani II Sampit untuk membelah kayu besar menjadi papan. Pengunjung juga dapat melihat gergaji tradisional bernama wantilan dan kuda-kuda penarik kayu manual yang dahulu digunakan oleh para pekerja kayu.

Di lantai dua, para siswa dibuat takjub dengan kerangka tulang ikan paus biru sepanjang 25 meter, yang ditemukan terdampar pada 23 September 2004. Selain itu, mereka juga melihat koleksi peralatan dapur tradisional, alat penggilingan padi, alat penangkap ikan, serta prototipe mobil Bupati Kotim tahun 1955-1956. Salah satu relief kayu yang menarik perhatian adalah relief perjuangan rakyat Samuda melawan penjajah Jepang, yang terbuat dari kayu jati.

Balogo yang Hampir Punah
Salah satu hal yang paling menarik perhatian siswa SDN 4 Ketapang adalah permainan tradisional Balogo, yang semakin jarang ditemukan di kalangan anak-anak zaman sekarang. “Balogo ini sangat seru dan menantang! Kami sebagai generasi muda harus melestarikannya agar tidak punah,” ujar Nafisa bersemangat, diamini oleh Hakil Rizki yang juga terkesan dengan sejarah permainan tersebut.

Kunjungan ini bukan hanya sekadar rekreasi, tetapi juga menjadi pengalaman belajar yang berharga. Para siswa mendapat wawasan baru tentang kekayaan alam dan budaya yang harus mereka jaga. “Kami sangat senang berkunjung ke Museum Kayu ini. Banyak hal unik dan langka yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” tambah Daffa.

Dengan semangat yang membara, siswa-siswi SDN 4 Ketapang berjanji untuk terus mengenalkan dan melestarikan budaya lokal. Museum Kayu Sampit telah membuka mata mereka bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana mereka menjaga warisan untuk masa depan.// (007)

pesona haka kalibata