SAMPIT — Komitmen menghadirkan akses pendidikan yang merata bagi seluruh anak kembali ditegaskan melalui kegiatan Verifikasi dan Validasi Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) Tahap II yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kegiatan ini melibatkan wilayah strategis bagian selatan, yakni Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Mentaya Hilir Utara (MHU), Teluk Sampit, dan Pulau Hanaut, dengan peserta seluruh operator desa dari empat kecamatan tersebut.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan yang diwakili oleh Kepala Bidang PAUD dan PNF, Legendaria Okta Bellany Nusaku, S.STP., M.Si.Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas peran dalam menekan angka ATS. Menurutnya, pengawas dan penilik memiliki tanggung jawab strategis dalam memastikan setiap anak di wilayah binaannya memperoleh akses pendidikan yang layak.
“Peran pengawas dan penilik tidak hanya sebatas pembinaan, tetapi juga sebagai penggerak dalam menurunkan angka anak tidak sekolah. Demikian pula operator desa, menjadi garda terdepan dalam melakukan verifikasi dan validasi data ATS di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Antusiasme terhadap kegiatan ini juga disampaikan oleh Sekretaris Camat MHS, Sunar Yulianto, yang menyambut baik pelaksanaan verval ATS di wilayah selatan. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam menjamin terpenuhinya hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan.
“Setiap anak berhak mengenyam pendidikan, baik melalui jalur formal maupun nonformal. Peran operator desa sangat vital sebagai ujung tombak dalam menekan angka ATS, karena mereka yang paling memahami kondisi riil di lapangan,” ungkapnya.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber berkompeten, yakni Kabid PAUD dan PNF Legendaria Okta Bellany Nusaku, Penilik PAUD PNF Ramadhansyah, serta Staf PAUD PNF Rony Zairifani. Mereka memberikan pemaparan komprehensif terkait mekanisme verifikasi dan validasi data ATS yang bersumber dari kementerian.
Dalam sesi materi, dijelaskan bahwa proses verval tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menuntut ketelitian dalam mengidentifikasi akar permasalahan di balik angka ATS. Data yang telah dihimpun dianalisis berdasarkan sebaran wilayah, kemudian ditelusuri penyebab utama anak tidak bersekolah, seperti kendala ekonomi keluarga, pernikahan usia dini, hingga faktor sosial lainnya.
Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu menghasilkan intervensi yang lebih tepat sasaran, sehingga upaya penanganan ATS tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, sinergi antara pemerintah daerah, pengawas, penilik, serta operator desa semakin diperkuat. Harapannya, tidak ada lagi anak di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur yang kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak, sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan generasi bangsa.//














