Pelatihan Menulis Hard News dan Feature Bagi Pegiat Literasi di Palangka Raya

Pemberian cindera mata untuk peserta yang bertanya dan aktif pada kegiatan lokakarya menulis artikel berita literasi di Palangka Raya | Sabtu, (12/10/2024)

PALANGKA RAYA, – Lembaga Lentera Bahijau (Rumah Baca Bahijau) melaksanakan kegiatan bernama “Lokakarya Menulis Artikel Berita Literasi untuk komunitas pegiat literasi di Palangka Raya”,  pada sabtu (12/10/2024) di Aula Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah. Adapun yang diundang  pada kegiatan tersebut terdiri dari lembaga; Forum TBM Kalteng, Rumah Baca Bahijau, Komunitas Literasi, Seni dan Budaya, Laskar Pelangi, Komunitas Kancil, TBM Luthfillah, Pensil Kita, Sekolah Rakyat Kalteng, Fork of Dayak, AMAN Kalteng, Balai Bahasa Kalteng, Dinas Perpustakaan Kota Palangka Raya, YBBI, WWF Kalteng, Yayasan Pandu Alam Lestari. Selain itu, beberapa media massa juga diundang, antara lain; TVRI Kalteng, Kalteng Pos, Tribun News, ANTARA Kalteng, InfoPLK.

Kegiatan ini memiliki tujuan untuk para pengiat literasi di Palangka Raya dapat menulis dan menyampaikan kepada publik mengunakan metode yang disampaikan melalui materi yang diterangkan oleh pemateri. Hal tersebut dipertegas oleh ketua panitia pelaksana dari Lembaga Lentera Bahijau (Rumah Baca Bahijau), melalui penyampaian laporannya di hadapan para peserta kegiatan dan panitia bahwasaanya kegiatan positif ini tidak serta merta sekedar untuk memunculkan eksistensi dari setiap lembaga pengiat literasi melalui gerakan menulis namun juga dapat memberikan penyadaran kepada khalayak luas terkait seberapa penting menulis di era saat ini dengan mengunakan literasi-literasi yang tersebar luas di mana-mana lalu memilahnya menjadi senjata perlawanan untuk keberpihakan kepada masyarakat kecil atau meminjam bahasa kekinian yang sering digaungkan aktivis ialah kelas yang termarjinalkan.

Pada saat dimulainya sesi penyampaian materi yang tentunya dimulai saat moderator memperkenalkan pemateri, para peserta tampak antusias karena pagi hari yang indah itu dibuka dengan pekikan semangat yang dilontarkan pemateri, “Selamat pagi!!!”, lalu peserta meresponnya, “Pagi, pagi, luar biasa” sebanyak 3 kali. Beberapa menit kemudian materi langsung dikupas.

Saat sesi pertama, pamateri menyampaikan materi terkait menulis berita yang disebut Hard News.  Berita tipe ini ialah berita yang harus cepat dituliskan saat kejadian terjadi atau sedang hangat-hangatnya. Misalnya, kasus penembakan oleh oknum dari Kepolisian di Bangkal pada tahun lalu, yang menewaskan salah satu pejuang masyarakat adat (Gijik) yang memperjuangkan haknya, tanahnya, melawan perusahaan yang bertindak semena-mena, sebagai penulis atau dalam hal ini jurnalis tentunya harus segera dan cepat tanggap saat peristiwa itu terjadi dan terjun ke lapangan untuk meliput atau mencari data tanpa turun ke lapangan lalu menulisnya. Berita tipe ini tentunya harus memuat 5 w + 1 h (What. When, Where, Who, Why dan How).

Dalam menulis berita, pemateri tidak hanya menyampaikan saja serta mengupas materi yang ada, tapi mencoba terus berinteraksi dengan peserta mengunakan metode tanya jawab. “Menurut kalian dalam menulis berita apakah hanya sampai pada 5 w + 1 h saja?”, tanyanya

Beberapa ada yang terdiam, bebarapa ada yang menjawab, “Tidak bang, ada yang namanya “So What?”. Segera pemateri merespon dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan, “Betul. Dalam menulis berita tidak hanya ada unsur 5 w + 1 h, namun juga ada unsur S yakni So, What? atau untuk apa berita itu dibuat?, atau pada konteks sekarang setelah kalian menulis kegiatan saat ini dengan 5 w + 1 h, lalu menanyakan untuk apa kegiatan ini?,  untuk apa menulis?, dan seterusnya  secara mendalam”.

Setelah materi pertama berakhir tampak para peserta antusias bertanya, namun moderator membatasi hanya pada 3 peserta tercepat. Pada sesi pertama perwakilan dari Relawan Informasi dan Komunikasi AMAN KALTENG (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalimantan Tengah) menjadi peserta kedua yang dipilih unuk berkesempatan menanya. Adapun pertanyaannya ialah sebagai berikut.

“Berangkat dari “sudut pandang” pada apa yang pemateri sampaikan pada slide tadi, penulis menurunkan 3 pertanyaan melalui “sudut pandang” Why dan How. Pertanyaan pertama lepas landas dari pernyataan moderator pada saat mempekenalkan pemateri yakni bang Aldo yang menuis sudah 10 tahun di Kompas sejak 2014.

Pertanyaannya ialah apa yang membuat abang tetap konsisren menulis hingga saat ini?. Selanjutnya bagaimana masa depan penulis (jurnalis dan penulis lainnya)?, ketiga, bagaimana masa penulis (manusia) dapat bersaing di era post modern (AI/Robot)?. 2 (dua) pertanyaan terakhir lepas landas dari literasi bacaan yang bersumber dari buku karyanya filsuf era modern (Jean Baudrillard) berjudul “Post Realitas”.

Dalam bukunya diterangkan bahwa era post modern merupakan era yang melampui realitas di mana kebenaran yang kita percayai melalui indera bergeser kepada kebenaran baru yang melampui kebenaran seperti zoom misalnya yang mulai sering digunakan saat covid-19,  dan beberapa orang berpandangan bahwa zoom tentunya mempermudah akses pertemuan tanpa tatap muka secara langsung.

Hadirnya sosial media (Instagram, Facebook, Whatshapp, Tik-tok, VR “Virtual Reality” dan lain sebagainya) sehingga beberapa orang terutama pada generasi milenial dan generasi-Z hari ini nyaman dengan kebenaran semu di sosial media, misalnya menghabiskan waktu menonton tik-tok dari malam hingga pagi sehingga kurangnya interaksi di dunia nyata.

Disisi lain baru beberapa bulan ini Sam Altman, CEO Open `AI atau sang pencipta Chat GPT  menyampaikan argumen dalam jumpa pers yang dilakukannya bahwa perkembangan AI yang akan dilakukan timnya dan juga tim-tim teknologi lainnya seperti NVIDIA, APPLE dan lain-lain ada 5 tahapan. Tahap pertama ialah AI hanya sebatas dapat berkomunikasi melalui sistem chat atau menjawab pertanyaan manusia berdasarkan jawaban-jawaban umum atau hanya pada titik percakapan saja (kondisi saat ini).

Lalu tahap kedua yang akan atau sedang dikerjakan yakni AI yang bisa berpikir sendiri (pemecah masalah pada tingkat manusia). Tahap ketiga yakni dapat menjadi agen atau sederhananya dapat mengambil tindakan. Keempat AI yang dapat melakukan inovasi atau sebagai yang dapat membantu melakukan penemuan. Dan terakhir ialah organisatoris atau dapat melakukan kerja-kerja organisasi seperti memimpin perusahaan, pemerintahan dan lain sebagainya.

Pada sesi kedua pamateri menyampaikan materi tentang Feature. Tulisan tipe ini adalah sebuah karya junalistik yang disampaikan dengan gaya bahasa yang indah dan tidak terpatok dengan waktu misalnya bisa ditulis kapan saja dan tentunya berbeda dengan karya junalistik Hard News yang cenderung mengunakan bahasa formal dan segera saat kejadian terjadi harus  dituliskan dan diberitakan saat itu juga.

Contoh judul sederhananya dari Hard News yang penulis tulis misalnya pada konteks kegiatan yang dibuat oleh masyarkat adat di Lewu Bahanei pada bulan september 2024, yakni melakukan Ritual Pamuhun Sahur  : “Ritual Pamuhun Sahur : Wujud Syukur Masyarakat Adat Dayak Di Desa Tumbang Bahanei” . Kemudian untuk feature, contoh tulisan yang pernah penulis tulis berjudul : “Suara dari Hutan Tropis Tumbang Bahanei”.

Setelah sesi berakhir setiap penanya dari peserta maju ke depan mimbar diberikan kenang-kenangan berupa 1 buku untuk 1 penanya yang merupakan sebuah inisiastif dari panitia penyelenggara yakni Lembaga Lentera Bahijau (Rumah Baca Bahijau).  Setelah itu, diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta yang hadir pada kegiatan tersebut. //

Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.

pesona haka kalibata