PALANGKA RAYA — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya (BEM FISIP UPR) menyoroti krisis lingkungan di Kalimantan Tengah dalam momentum peringatan Hari Bumi Internasional, 22 April 2026.
Organisasi mahasiswa itu menilai peringatan Hari Bumi tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang refleksi kritis atas kondisi lingkungan yang terus memburuk.
Pada 2026, Hari Bumi mengusung tema “Our Power, Our Planet”, yang menekankan peran manusia dalam menentukan masa depan bumi. Namun, refleksi di Kalimantan Tengah justru menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Data terbaru mencatat provinsi ini mengalami deforestasi tertinggi di Indonesia sepanjang 2025, dengan kehilangan hutan mencapai 56.900 hektare.
Koordinator Bidang Sosial BEM FISIP UPR, Jerry, mengatakan angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan peringatan serius atas krisis ekologis yang tengah berlangsung.
“Deforestasi 56.900 hektare ini bukan sekadar angka, namun ini adalah alarm keras bahwa kita sedang berada dalam krisis ekologis yang nyata. Kita bukan hanya kehilangan hutan, tetapi ini ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat,” ujarnya.
Menurut Jerry, laju deforestasi didorong oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, pembalakan liar, serta proyek-proyek besar, termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN), yang dinilai kerap mengabaikan daya dukung lingkungan dan hak masyarakat lokal.
Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa lagi dipandang sebagai isu teknis semata, melainkan berkaitan dengan arah pembangunan.
“Ketika kerusakan terus terjadi dan hutan terus hilang, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya aktivitas di lapangan, tetapi arah pembangunan yang memberi ruang pada eksploitasi tanpa batas. Ini menunjukkan adanya kegagalan dalam menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas,” kata Jerry.
BEM FISIP UPR menilai pengelolaan sumber daya alam di Kalimantan Tengah hingga kini masih didominasi pendekatan eksploitatif. Hutan dipandang sebagai komoditas ekonomi jangka pendek, sementara fungsi ekologisnya sebagai penopang kehidupan diabaikan.
Jerry menegaskan momentum Hari Bumi harus menjadi titik refleksi sekaligus titik sikap.
“Hari Bumi tidak boleh berhenti pada refleksi simbolik. Harus ada keberanian untuk mengoreksi arah pembangunan dan memastikan bahwa lingkungan tidak terus dikorbankan,” ujarnya.
BEM FISIP UPR juga mengajak mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama menjaga lingkungan dari ancaman deforestasi.
“Mahasiswa, pemerintah maupun masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga alam. Ini bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi keharusan untuk memastikan keberlangsungan hidup hari ini dan masa depan,” kata Jerry. //
Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.














