PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) merilis peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyusul meningkatnya potensi kebakaran di sejumlah wilayah. Berdasarkan hasil pemantauan hingga Selasa (23/6/2026) pukul 14.00 WIB, beberapa daerah di Kalimantan Tengah, khususnya wilayah bagian selatan, telah masuk kategori “Sangat Mudah Terbakar”.
Data yang mengacu pada Sistem Informasi Spartan BMKG menunjukkan lapisan permukaan tanah, alang-alang, serta serasah daun di kawasan tersebut berada dalam kondisi sangat kering. Situasi itu meningkatkan risiko terjadinya kebakaran apabila muncul sumber api, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
Selain itu, berdasarkan pemantauan satelit SiPongi selama periode 21–23 Juni 2026, terdeteksi enam titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah. Titik panas tersebut tersebar di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak tiga titik, Gunung Mas dua titik, dan Kotawaringin Barat satu titik.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah selaku Komandan Harian, Ahmad Toyib, meminta seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah pencegahan.
“Melihat grafik analisis dari BMKG, wilayah Kalimantan Tengah bagian selatan sudah didominasi zona merah, yang artinya material di permukaan tanah sangat kering dan sangat mudah terbakar. Kami meminta seluruh personel di posko serta Satgas di lapangan untuk memperketat patroli pencegahan dan deteksi dini. Jangan sampai ada aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar, karena dalam kondisi sekering ini, api akan sangat cepat meluas dan sulit dikendalikan,” ujar Ahmad Toyib, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, hasil pemantauan tinggi muka air tanah di sejumlah daerah rawan, seperti Kotawaringin Barat, Seruyan, hingga Kapuas, menunjukkan kelembapan tanah di beberapa titik sensor telah mencapai 0,0 persen. Kondisi tersebut menandakan lahan gambut semakin rentan terbakar sehingga membutuhkan pengawasan lebih intensif.
“Posko Krisis Karhutla terus siaga 24 jam memonitor perkembangan hotspot dan pergerakan arah angin yang saat ini umumnya bertiup dari Timur-Tenggara. Kami juga berkoordinasi intensif dengan kabupaten dan kota untuk melakukan penanganan cepat begitu ada laporan titik api terdeteksi agar tidak meluas menembus lahan gambut,” kata Ahmad Toyib.
BPBD Provinsi Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan indikasi kebakaran. Pemerintah daerah juga terus mengoptimalkan patroli lapangan, pemantauan hotspot, dan sistem deteksi dini sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kalimantan Tengah bebas dari bencana kabut asap
Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.














