Tim PkM Hibah BIMA Universitas Palangka Raya Dampingi KUPS Desa Tuwung, Perkuat Branding dan Hilirisasi Produk

AWS / Foto: Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Palangka Raya bersama anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) desa Tuwung

PULANG PISAU – Upaya meningkatkan daya saing produk lokal berbasis potensi desa terus dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Palangka Raya (UPR). Melalui Program Hibah BIMA yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan bertema “Branding dan Hilirisasi Produk” bagi anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Desa Tuwung, Kabupaten Pulang Pisau, pada Selasa, 7 Juli 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pemberdayaan masyarakat yang dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha berbasis perhutanan sosial agar mampu mengembangkan produk unggulan desa secara berkelanjutan. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produksi, program ini juga diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat dalam menciptakan identitas merek (branding), memperkuat nilai tambah (value added), serta memperluas akses pasar melalui strategi hilirisasi produk.

Tim PkM dipimpin oleh Dr. Mochammad Doddy Syahirul Alam, S.E., M.Si. selaku Ketua Tim, bersama anggota tim yang terdiri atas Dewi Rakhmawati, S.Hum., M.M., Adithiya Wiradinatha Saputra, S.I.Kom., M.A., Felik Rolantius Jovito, Muhammad Amin Rahim Hidayat, dan Agsa Rakha Aryabimo. Kolaborasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan materi yang komprehensif, mulai dari aspek manajemen usaha, komunikasi pemasaran, hingga strategi pengembangan produk.

Dalam pelaksanaannya, Tim PkM menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pengembangan produk kreatif dan branding, yakni Nawung Asmoro Girindraswari, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya.

Melalui pemaparannya, Nawung menekankan bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas isi, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha membangun identitas merek yang kuat dan mudah dikenali masyarakat. Menurutnya, branding merupakan investasi jangka panjang yang mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya hilirisasi produk sebagai strategi meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal. Hilirisasi dipandang sebagai proses yang mampu mengubah produk mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat desa.

Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar branding, penyusunan identitas merek, penentuan karakter produk, desain logo dan kemasan, strategi komunikasi pemasaran, hingga pengembangan produk yang memiliki daya saing. Materi tersebut disampaikan secara aplikatif dengan pendekatan partisipatif sehingga mudah dipahami oleh para anggota KUPS.

Tidak berhenti pada penyampaian teori, peserta juga diajak melakukan praktik langsung untuk mengidentifikasi keunggulan produk yang dimiliki, menyusun konsep merek, mengevaluasi desain kemasan, hingga merancang strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik produk lokal Desa Tuwung. Pendekatan praktik tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman nyata sehingga peserta dapat langsung menerapkannya dalam pengembangan usaha masing-masing.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang selama ini dihadapi, mulai dari keterbatasan promosi, lemahnya identitas produk, desain kemasan yang belum menarik, hingga tantangan menembus pasar yang lebih luas. Berbagai pengalaman lapangan yang disampaikan peserta kemudian menjadi bahan diskusi bersama untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi usaha masyarakat.

Ketua Tim PkM, Dr. Mochammad Doddy Syahirul Alam, mengatakan bahwa penguatan branding dan hilirisasi merupakan tahapan penting dalam mendorong transformasi ekonomi masyarakat desa. Menurutnya, banyak produk lokal sebenarnya memiliki kualitas yang baik, namun belum mampu bersaing karena belum memiliki identitas merek yang kuat dan strategi pengembangan yang terencana.

“Produk yang berkualitas harus didukung oleh branding yang baik agar mampu membangun kepercayaan konsumen. Di sisi lain, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sehingga produk desa tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Program Hibah BIMA tidak hanya berfokus pada pelaksanaan pelatihan semata, tetapi juga mengedepankan proses pendampingan yang berkelanjutan agar masyarakat mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh secara nyata.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir sebagai mitra pembangunan masyarakat melalui transfer pengetahuan, inovasi, serta pendampingan yang mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan. Karena itu, sinergi antara akademisi, pemerintah desa, kelompok usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.

Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Universitas Palangka Raya dalam mendukung penguatan ekonomi berbasis potensi lokal sekaligus mendorong implementasi hasil-hasil akademik agar memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Melalui peningkatan kapasitas anggota KUPS, diharapkan lahir produk-produk unggulan Desa Tuwung yang memiliki identitas merek yang kuat, kemasan yang lebih kompetitif, serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas, baik di tingkat regional maupun nasional. Penguatan aspek branding dan hilirisasi diyakini akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing usaha masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.

Tim PkM Hibah BIMA Universitas Palangka Raya berharap agar anggota KUPS Desa Tuwung dalam proses pengembangan usaha tidak berhenti pada pelatihan, melainkan berlanjut hingga implementasi nyata di lapangan. Harapannya, peningkatan kapasitas pelaku usaha ini mampu mendorong terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat, memperkuat pengelolaan perhutanan sosial yang produktif, serta berkontribusi terhadap pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan. //

Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.

pesona haka kalibata