Karhutla Kalteng Meningkat, 2.844 Titik Panas Terdeteksi dan 3.069 Hektare Lahan Terdampak

Palangka Raya – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah terus meningkat memasuki pertengahan tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat sebanyak 2.844 titik panas (hotspot) terdeteksi sejak awal tahun hingga 19 Juli 2026, dengan total 563 kejadian kebakaran di berbagai wilayah.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kalteng, laporan kejadian dari kabupaten/kota mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 852,58 hektare. Namun, berdasarkan hasil verifikasi menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS yang dipadukan dengan data sebaran titik panas serta pemeriksaan lapangan oleh Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total luasan wilayah yang terdampak kebakaran mencapai 3.069,52 hektare.

Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan peningkatan kejadian karhutla dipengaruhi oleh kondisi cuaca kering yang mulai terjadi hampir di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.

Menurutnya, kondisi vegetasi yang mulai mengering menyebabkan api lebih cepat merambat sehingga membutuhkan kesiapsiagaan dan penanganan maksimal dari seluruh unsur terkait.

“Pergerakan api sangat cepat akibat vegetasi lahan yang mulai mengering. Seluruh satgas, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, diinstruksikan untuk mempertahankan status siaga penuh demi mengamankan visi Kalteng Bebas Kabut Asap 2026,” ujar Ahmad Toyib, Senin (20/7/2026).

Ia menjelaskan, wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi hingga pertengahan Juli 2026 berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 401 titik, disusul Kabupaten Lamandau sebanyak 374 titik, Kabupaten Kapuas sebanyak 365 titik, dan Kabupaten Katingan sebanyak 356 titik.

Dari sisi penanganan di lapangan, Kota Palangka Raya mencatat frekuensi penanggulangan kebakaran tertinggi dengan 199 kali kejadian, kemudian Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 96 kejadian dan luas area terdampak sekitar 188 hektare.

Sementara itu, Kabupaten Sukamara menjadi wilayah dengan luasan area terbakar terbesar, yakni mencapai 138,2 hektare dari 237 titik panas yang terpantau.

Dalam upaya pengendalian karhutla, BPB-PK Kalteng terus memperkuat operasi pemadaman dengan melibatkan personel gabungan serta dukungan operasi udara. Saat ini terdapat 94 personel gabungan yang dikerahkan dan didukung empat unit helikopter pengebom air (water bombing) untuk mempercepat penanganan kebakaran.

Ahmad Toyib menyampaikan, meski kondisi karhutla meningkat, hingga saat ini dampak terhadap kesehatan masyarakat masih dalam kondisi terkendali. Berdasarkan laporan posko kesehatan, belum ditemukan peningkatan kasus penyakit akibat dampak asap seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun diare.

Aktivitas pendidikan di seluruh wilayah Kalimantan Tengah juga masih berjalan normal tanpa adanya kebijakan peliburan sekolah akibat kabut asap.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sebelumnya telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026. Status tersebut berlaku hingga 31 Oktober 2026 dengan melibatkan pemerintah daerah, aparat, relawan, serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

BPB-PK Kalteng mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin. Upaya bersama seluruh pihak menjadi kunci dalam menjaga Kalimantan Tengah tetap aman dari ancaman kabut asap akibat karhutla.

Ikuti Kaltengbicara.com di Google News untuk dapatkan informasi lainnya.

pesona haka kalibata