SAMPIT – Suasana khidmat dan penuh keharuan menyelimuti halaman RA Melati Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur pada peringatan Hari Ibu, Senin 22 Desember 2025. Perayaan yang digelar bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan menjelma menjadi fragmen kehidupan yang mengajarkan makna bakti, cinta, dan ketulusan sejak usia paling dini.
Puncak acara berlangsung dalam prosesi basuh kaki ibu, sebuah ritual sarat makna yang menggugah relung jiwa. Anak-anak dengan tangan mungil dan wajah polos membasuh kaki para bunda. Setiap tetes air seakan menjadi simbol pengakuan atas langkah-langkah panjang dan pengorbanan tanpa jeda yang telah ditempuh seorang ibu demi masa depan anak-anaknya.
Kepala RA Melati, Mariyamah, S.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai media pembelajaran karakter, khususnya dalam menanamkan nilai birrul walidain—berbakti kepada orang tua—sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa di balik senyum dan ketegaran seorang ibu, ada cinta dan pengorbanan yang tak terhitung. Melalui basuhan kaki ini, anak-anak belajar merendahkan hati, mengenal empati, dan menanamkan rasa hormat yang kelak tumbuh menjadi akhlak,” tutur Maryamah.
Keheningan prosesi perlahan pecah oleh isak tangis haru. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung, baik dari para ibu maupun hadirin yang menyaksikan. Salah satu momen paling menyentuh datang dari Asykuriah, orang tua dari santriwati bernama Alesha Asyifa Zahra. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan getaran batin yang sulit dilukiskan dengan kata.
“Saat tangan kecil anak-anak menyentuh kaki kami, rasanya hati ini disentuh sangat dalam. Tatapan tulus dan tangis polos mereka menjadi pengingat bahwa kasih sayang adalah harta paling berharga yang kami miliki,” ucap Asykuriah lirih.
Usai suasana haru mereda, acara dilanjutkan dengan Lomba Memasak Mie yang menghadirkan keceriaan dan tawa. Ibu- ibu bekerja sama meracik hidangan sederhana, menghadirkan kehangatan yang merefleksikan suasana harmonis dan kekeluargaan serta kekompakan. Aroma gurih yang menguar seakan menjadi simbol cinta yang tumbuh dari kebersamaan.
Lomba ini tidak semata menilai rasa atau kecepatan, melainkan merayakan komunikasi, kerja sama, dan kebahagiaan kecil yang tercipta dari momen kebersamaan.
Peringatan Hari Ibu di RA Melati Sampit tahun ini menjadi potret indah bagaimana lembaga pendidikan anak usia dini mampu menjembatani hubungan spiritual dan emosional antara ibu dan anak. Di Kabupaten Kotawaringin Timur, Hari Ibu dirayakan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui bakti yang nyata dan cinta yang membumi—cinta yang kelak menuntun anak-anak menuju pintu surga melalui ridhaseorang ibu.//
Ikuti Kaltengbicara.com di Google Newsuntuk dapatkan informasi lainnya.














