SAMPIT – Menyongsong penilaian tahap pertama program Adipura oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup pada 31 Maret 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur bergerak cepat melakukan pemantauan langsung ke sejumlah sekolah yang ditetapkan sebagai titik pantau.
Tiga sekolah menjadi fokus kunjungan, yakni SDN 4 Ketapang, MTsN 1 Kotawaringin Timur, dan SMK Negeri 2 Sampit. Kehadiran tim penilai dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang diwakili oleh Asriyanto, S.Hut., M.Si dan Anisa Riski, S.Kom, menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan lingkungan sekolah secara menyeluruh.
Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada aspek kebersihan visual, tetapi juga mencakup tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Sekolah diharapkan mampu menghadirkan kebersihan ruang dalam dan luar gedung, drainase yang terawat, toilet yang higienis, serta sistem pengelolaan sampah yang efektif—termasuk tersedianya tempat sampah terpilah, penguatan tata kelola sampah secara terpilah dari sumber di lingkungan sekolah, serta tidak adanya praktik pembakaran sampah.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kotim, Mentaya L. Gaol, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan semangat serta dorongan kepada seluruh sekolah agar terus berbenah dan menjaga konsistensi dalam pengelolaan lingkungan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Adipura tidak hanya ditentukan saat penilaian, tetapi dari kebiasaan baik yang terbangun setiap hari di lingkungan sekolah.
Di antara titik pantau tersebut, SDN 4 Ketapang tampil menonjol dengan inovasi bank sampah yang tidak hanya tertata rapi, tetapi juga dikelola secara produktif melalui kemitraan dengan PT. Trakindo dan Griya Samudra. Beragam produk kreatif lahir dari tangan-tangan terampil siswa, mulai dari bros berbahan sisik ikan jelawat, ikat rambut dari kain perca, hingga sofa berbasis ecobrick yang ramah lingkungan.
Tak hanya itu, kreativitas siswa juga merambah pada produk olahan herbal berupa serbuk minuman bawang Dayak yang memiliki nilai ekonomis sekaligus edukatif. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di sekolah tidak berhenti pada proses pemilahan, tetapi berkembang menjadi gerakan kewirausahaan berbasis lingkungan.
Kepala SDN 4 Ketapang, Nursinah, menyambut baik kunjungan tersebut sebagai bentuk pembinaan sekaligus motivasi bagi seluruh warga sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan.
Sementara itu, tim Kementerian Lingkungan Hidup memberikan sejumlah masukan konstruktif, khususnya terkait efektivitas sistem pemilahan sampah agar lebih optimal dan berkelanjutan dalam implementasinya.
Guru pembina pengelola bank sampah, Noor Sholehah, S.Pd dan Halimatussa’diyah, S.Pd menjelaskan bahwa berbagai kerajinan yang dihasilkan siswa merupakan bagian dari pembelajaran muatan lokal. “Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga menanamkan kesadaran sejak dini akan pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Melalui sinergi antara pemerintah, sekolah, dan mitra dunia usaha, semangat Adipura di Kabupaten Kotawaringin Timur tidak sekadar menjadi ajang penilaian, melainkan gerakan kolektif untuk membangun budaya hidup bersih, kreatif, dan berkelanjutan.//














