Trisnawati, Guru SMKN 3 Sampit Harumkan Kotim saat Raih Penghargaan di Festival Sastra dan Sarasehan Budaya

FOTO - Trisnawati ketika menunjukkan piagam penghargaan prestasinya.

SAMPIT – Ditengah derasnya arus modernisasi yang kian menggeser ruang hidup budaya lokal, sebuah prestasi membanggakan lahir dari dunia pendidikan Kotawaringin Timur. Trisnawati, guru SMK Negeri 3 Sampit, berhasil mengukir prestasi sebagai Terbaik IV pada Festival Sastra dan Sarasehan Budaya Kalimantan Tengah yang diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Kalimantan Tengah.

Penghargaan tersebut diserahkan pada puncak kegiatan yang berlangsung di Ballroom Lantai 6 Gedung PPIIG Universitas Palangka Raya, Rabu (15/7/2026). Festival yang mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP itu menjadi ruang apresiasi bagi para pegiat sastra, akademisi, serta pendidik dalam mengembangkan karya berbasis kearifan lokal.

Sebanyak 30 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah mengikuti kompetisi dengan mengangkat tema Alih Wahana Sastra Lisan, yakni mentransformasikan sastra tutur tradisional ke dalam media kreatif yang lebih dekat dengan generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang dikandungnya.

Melalui proses kurasi dan penilaian yang berlangsung objektif serta kompetitif, dewan juri menetapkan lima karya terbaik. Di antara para finalis tersebut, Trisnawati berhasil menempatkan dirinya sebagai Terbaik IV, sebuah capaian yang mencerminkan kemampuan literasi, kreativitas, sekaligus kepeduliannya terhadap pelestarian budaya daerah.

Kepala SMK Negeri 3 Sampit, Lismayani, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, prestasi Trisnawati menjadi bukti bahwa guru bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan sebagai agen pelestarian budaya dan penggerak inovasi.

“Prestasi ini merupakan kebanggaan bagi keluarga besar SMK Negeri 3 Sampit. Ibu Trisnawati telah menunjukkan bahwa dedikasi, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya mampu menghasilkan karya yang mendapat pengakuan di tingkat provinsi. Semoga capaian ini menginspirasi seluruh guru dan peserta didik untuk terus berkarya, berinovasi, serta menjadikan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran yang bernilai,” ujar Lismayani.

Bagi Trisnawati, penghargaan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pencapaian pribadi. Ia memandang sastra sebagai ruang untuk merawat identitas dan membangun karakter generasi muda.

“Penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan pengingat bahwa tanggung jawab kita sebagai pendidik adalah memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Sastra lisan menyimpan kebijaksanaan yang diwariskan antargenerasi. Ketika ia dihadirkan melalui media yang kreatif, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan antara warisan leluhur dan masa depan. Saya percaya pendidikan akan semakin bermakna apabila mampu menumbuhkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam karakter, dan bangga terhadap akar budayanya,” ungkap Trisnawati.

Ia menambahkan bahwa penghargaan tersebut dipersembahkan untuk keluarga besar SMK Negeri 3 Sampit, masyarakat Kotawaringin Timur, serta seluruh pegiat literasi dan budaya yang terus bekerja dalam senyap menjaga kekayaan tradisi Kalimantan Tengah agar tetap lestari.

Festival Sastra dan Sarasehan Budaya tahun ini turut dihadiri sejumlah tokoh sastra nasional dan daerah, di antaranya Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., serta Ketua HISKI Komisariat Kalimantan Tengah, Alifiah Nurachmana, S.S., M.Pd.

Keberhasilan Trisnawati menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat mencetak sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga menjadi ruang strategis dalam merawat memori kolektif bangsa melalui sastra dan kebudayaan. Di tangan para pendidik yang berdedikasi, warisan budaya tidak sekadar dipelajari, melainkan dihidupkan kembali agar tetap relevan bagi generasi masa depan.//

 

pesona haka kalibata