OPINI – Di tengah laju modernisasi yang semakin cepat, tradisi sering kali ditempatkan dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, tradisi dipandang sebagai warisan budaya yang harus dipertahankan karena mengandung nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sisi lain, tradisi kerap dianggap sebagai praktik masa lalu yang tidak lagi relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Menurut Ferlian, cara pandang yang menempatkan tradisi hanya dalam dua kutub tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Tradisi tidak sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga merupakan ruang sosial tempat masyarakat membangun makna, memperkuat identitas, serta merawat solidaritas di tengah perubahan zaman.
Pemahaman tersebut semakin terlihat ketika penulis mengikuti tradisi Tolak Bala yang dilaksanakan oleh masyarakat RT 02, Desa Sikui, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, pada Kamis, 30 Juli 2026. Sepintas, kegiatan ini dapat dipahami sebagai ritual untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai bentuk musibah. Namun, setelah mengamati rangkaian prosesi dan berdialog dengan masyarakat, terlihat bahwa tradisi tersebut menyimpan pesan sosial yang jauh lebih dalam daripada sekadar ritual keagamaan ataupun adat.
Tradisi sebagai Bahasa Simbolik Masyarakat
Salah satu simbol yang digunakan dalam tradisi Tolak Bala adalah daun kunyit. Menurut penjelasan masyarakat, daun kunyit dipilih karena tetap kokoh meskipun telah mengalami kekeringan.
Penjelasan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari perspektif sosiologi, pilihan terhadap sebuah benda dalam ritual bukanlah sesuatu yang tanpa makna. Masyarakat sebenarnya sedang mengubah benda yang berada di sekitar mereka menjadi sebuah bahasa simbolik.
Daun kunyit tidak lagi sekadar dipahami sebagai tumbuhan, tetapi menjadi representasi tentang ketangguhan, daya tahan, dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Di dalamnya terdapat pesan agar masyarakat mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan persatuan dan solidaritas.
Dengan demikian, tradisi tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggap sakral, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat memahami kehidupan mereka sendiri.
Simbol “+” dan Hubungan Sosial-Spiritual
Makna simbolik lainnya terlihat pada penggunaan tanda “+” dalam prosesi Tolak Bala. Berdasarkan penjelasan masyarakat, simbol tersebut memiliki sedikitnya dua penafsiran.
Penafsiran pertama melihat garis horizontal sebagai representasi hubungan antarmanusia, sedangkan garis vertikal melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Simbol tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat sepenuhnya dipisahkan antara dimensi sosial dan spiritual.
Manusia merupakan makhluk sosial yang membangun hubungan dengan sesamanya, tetapi pada saat yang sama memiliki hubungan dengan keyakinan dan nilai-nilai spiritual yang diyakininya. Dengan kata lain, kehidupan sosial dan spiritual berjalan beriringan dan saling memengaruhi.
Penafsiran kedua menghubungkan simbol “+” dengan empat arah mata angin. Makna ini menggambarkan harapan agar berbagai bala atau gangguan yang datang dari segala penjuru dapat dijauhkan dari kehidupan masyarakat.
Menariknya, konsep “bala” yang dipahami masyarakat tidak hanya terbatas pada bencana alam. Bala dapat dimaknai lebih luas sebagai segala sesuatu yang berpotensi mengganggu ketenteraman, keselamatan, dan keharmonisan kehidupan bersama.
Pada titik ini, Tolak Bala tidak hanya menjadi sebuah ritual penolak musibah, tetapi juga simbol perlindungan kolektif.
Tolak Bala dan Collective Conscience Durkheim
Sebagai mahasiswa sosiologi, Ferlian melihat tradisi Tolak Bala memiliki keterkaitan yang kuat dengan gagasan Émile Durkheim mengenai collective conscience atau kesadaran kolektif.
Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat memiliki seperangkat nilai, norma, keyakinan, dan kesadaran bersama yang mengikat para anggotanya. Kesadaran tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan terus dibangun dan diperkuat melalui interaksi sosial serta praktik bersama.
Dalam konteks tradisi Tolak Bala, ketika masyarakat berkumpul, mengikuti rangkaian prosesi, berdoa, menggunakan simbol-simbol tertentu, dan menjalankan ritual secara bersama-sama, mereka sesungguhnya sedang melakukan proses sosial untuk memperbarui komitmen terhadap nilai, norma, identitas, dan rasa memiliki sebagai bagian dari satu komunitas.
Karena itu, ritual tidak semata-mata memiliki fungsi religius. Ia juga memiliki fungsi sosial.
Ritual menciptakan ruang perjumpaan antarmasyarakat. Orang-orang yang mungkin dalam kehidupan sehari-hari sibuk dengan urusan masing-masing kembali dipertemukan dalam satu momentum bersama. Di ruang tersebut, batas-batas individual menjadi lebih cair dan kesadaran sebagai bagian dari komunitas kembali diperkuat.
Tradisi Bukan Sekadar Masa Lalu
Sering kali modernisasi dipahami sebagai sesuatu yang harus berhadapan dengan tradisi. Seolah-olah masyarakat hanya memiliki dua pilihan: mempertahankan tradisi atau meninggalkannya demi menjadi modern.
Menurut Ferlian, pemahaman tersebut perlu dikoreksi.
Modernisasi seharusnya tidak berarti memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya. Justru, tantangan terbesar masyarakat modern adalah bagaimana memastikan nilai-nilai budaya tetap memiliki relevansi di tengah perubahan sosial.
Tradisi dapat mengalami perubahan bentuk, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dapat tetap hidup. Sebuah ritual mungkin memiliki cara pelaksanaan yang berbeda dari masa ke masa, tetapi pesan tentang kebersamaan, ketahanan, penghormatan terhadap lingkungan, solidaritas, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta tetap dapat dipertahankan.
Karena itu, melestarikan tradisi bukan berarti membawa masyarakat kembali ke masa lalu. Melestarikan tradisi berarti merawat makna yang masih relevan untuk kehidupan masa kini dan masa depan.
Dari Ritual Menjadi Identitas Sosial
Tolak Bala di Desa Sikui pada akhirnya menunjukkan bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu berhubungan dengan masyarakat yang menciptakan, menjalankan, dan memberikan makna terhadapnya.
Daun kunyit, simbol “+”, doa, prosesi, serta kebersamaan masyarakat dalam ritual tersebut menjadi bagian dari sistem makna yang membentuk identitas sosial komunitas.
Dalam perspektif sosiologi, hal yang menarik bukan semata-mata apakah seseorang percaya atau tidak terhadap kekuatan ritual tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat secara bersama-sama memberikan makna kepada ritual itu dan menjadikannya bagian dari kehidupan sosial mereka.
Dengan demikian, Tolak Bala dapat dibaca sebagai cermin bagaimana sebuah komunitas memahami ancaman, keselamatan, ketahanan, solidaritas, dan hubungan sosial melalui bahasa budaya yang mereka miliki sendiri.
Merawat Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Tradisi pada akhirnya bukan hanya persoalan tentang apa yang diwariskan oleh generasi terdahulu, tetapi juga tentang apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Apa yang dilakukan masyarakat Desa Sikui menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga identitas masyarakat di tengah perubahan zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi penting untuk terus dipahami, didokumentasikan, dan diwariskan, terutama kepada generasi muda.
Sebab, ketika sebuah tradisi kehilangan maknanya, yang hilang bukan hanya sebuah ritual. Yang berpotensi ikut hilang adalah ingatan kolektif, identitas sosial, serta nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat.
Tolak Bala karena itu tidak semestinya dilihat hanya sebagai ritual untuk menolak bala. Ia dapat dibaca sebagai bahasa sosial masyarakat dalam menyatakan harapan, menjaga ketenteraman, memperkuat solidaritas, dan menegaskan identitas komunitasnya.
Di tengah modernisasi yang terus bergerak, barangkali tugas kita bukan memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan mencari cara agar keduanya dapat berjalan berdampingan. Tradisi perlu diberi ruang untuk terus hidup, bukan semata karena ia berasal dari masa lalu, tetapi karena di dalamnya masih terdapat nilai yang dapat menjawab kebutuhan kehidupan masyarakat hari ini.














